Selasa, 01 Maret 2011

KEBUDAYAAN BATAK,,,,




Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia. Nama ini merupakan sebuah terma kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli, Sumatera Utara. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai Batak adalah Karo, Pakpak, Toba, Simalungun, Mandailing, dan Angkola.
Sebagian besar orang Batak menganut agama Kristen dan sebagian lagi beragama Islam. Tetapi ada pula yang menganut agama Malim (pengikutnya biasa disebut dengan Parmalim) dan juga penganut kepercayaan animisme (disebut Pelebegu atau Parbegu), walaupun kini jumlah penganut kedua ajaran ini sudah semakin berkurang.

Brikut adalah sub dari budaya batak:
1.sejarah
2.penyebaran agama
3.kepercayaan
4.kekerabatan
5.falsafah dan sistem kemasyarakatan

Sejarah

Topografi dan alam Tapanuli yang subur, telah menarik orang-orang Melayu Tua (Proto Melayu) untuk bermigrasi ke wilayah Danau Toba sekitar 4.000 - 7.000 tahun lalu. Bahasa dan bukti-bukti arkeologi menunjukkan bahwa orang-orang Austronesia dari Taiwan telah berpindah ke Sumatera dan Filipina sekitar 2.500 tahun lalu, dan kemungkinan orang Batak termasuk ke dalam rombongan ini..Selama abad ke-13, orang Batak melakukan hubungan dengan kerajaan Pagaruyung di Minangkabau yang mana hal ini telah menginspirasikan pengembangan aksara Batak..Pada abad ke-6, pedagang-pedagang Tamil asal India mendirikan kota dagang Barus, di pesisir barat Sumatera Utara. Mereka berdagang kamper yang diusahakan oleh petani-petani Batak di pedalaman. Produksi kamper dari tanah Batak berkualitas cukup baik, sehingga kamper menjadi komoditi utama pertanian orang Batak, disamping kemenyan. Pada abad ke-10, Barus diserang oleh Sriwijaya. Hal ini menyebabkan terusirnya pedagang-pedagang Tamil dari pesisir Sumatera. Pada masa-masa berikutnya, perdagangan kamper banyak dikuasai oleh pedagang Minangkabau yang mendirikan koloni di pesisir barat dan timur Sumatera Utara. Koloni-koloni mereka terbentang dari Barus, Sorkam, hingga Natal.

Penyebaran agama

Masuknya Islam

Dalam kunjungannya pada tahun 1292, Marco Polo melaporkan bahwa masyarakat Batak sebagai orang-orang "liar yang musyrik" dan tidak pernah terpengaruh oleh agama-agama dari luar. Meskipun Ibn Battuta, mengunjungi Sumatera Utara pada tahun 1345 dan mengislamkan Sultan Al-Malik Al-Dhahir, masyarakat Batak tidak pernah mengenal Islam sebelum disebarkan oleh pedagang Minangkabau. Bersamaan dengan usaha dagangnya, banyak pedagang Minangkabau yang melakukan kawin-mawin dengan perempuan Batak. Hal ini secara perlahan telah meningkatakan pemeluk Islam di tengah-tengah masyarakat Batak.Pada masa Perang Paderi di awal abad ke-19, pasukan Minangkabau menyerang tanah Batak dan melakukan pengislaman besar-besaran atas masyarakat Mandailing dan Angkola. Namun penyerangan Paderi atas wilayah Toba, tidak dapat mengislamkan masyarakat tersebut, yang pada akhirnya mereka menganut agama Protestan.Kerajaan Aceh di utara, juga banyak berperan dalam mengislamkan masyarakat Karo, Pakpak, dan Dairi.

Misionaris Kristen

Pada tahun 1824, dua misionaris Baptist asal Inggris, Richard Burton dan Nathaniel Ward berjalan kaki dari Sibolga menuju pedalaman Batak.Setelah tiga hari berjalan, mereka sampai di dataran tinggi Silindung dan menetap selama dua minggu di pedalaman. Dari penjelajahan ini, mereka melakukan observasi dan pengamatan langsung atas kehidupan masyarakat Batak. Pada tahun 1834, kegiatan ini diikuti oleh Henry Lyman dan Samuel Munson dari Dewan Komisaris Amerika untuk Misi Luar Negeri.
Pada tahun 1850, Dewan Injil Belanda menugaskan Herman Neubronner van der Tuuk untuk menerbitkan buku tata bahasa dan kamus bahasa Batak - Belanda. Hal ini bertujuan untuk memudahkan misi-misi kelompok Kristen Belanda dan Jerman berbicara dengan masyarakat Toba dan Simalungun yang menjadi sasaran pengkristenan mereka..
Misionaris pertama asal Jerman tiba di lembah sekitar Danau Toba pada tahun 1861, dan sebuah misi pengkristenan dijalankan pada tahun 1881 oleh Dr. Ludwig Ingwer Nommensen. Kitab Perjanjian Baru untuk pertama kalinya diterjemahkan ke bahasa Batak Toba oleh Nommensen pada tahun 1869 dan penerjemahan Kitab Perjanjian Lama diselesaikan oleh P. H. Johannsen pada tahun 1891. Teks terjemahan tersebut dicetak dalam huruf latin di Medan pada tahun 1893. Menurut H. O. Voorma, terjemahan ini tidak mudah dibaca, agak kaku, dan terdengar aneh dalam bahasa Batak.
Masyarakat Toba dan Karo menyerap agama Nasrani dengan cepat, dan pada awal abad ke-20 telah menjadikan Kristen sebagai identitas budaya.Pada masa ini merupakan periode kebangkitan kolonialisme Hindia-Belanda, dimana banyak orang Batak sudah tidak melakukan perlawanan lagi dengan pemerintahan kolonial. Perlawanan secara gerilya yang dilakukan oleh orang-orang Batak Toba berakhir pada tahun 1907, setelah pemimpin kharismatik mereka, Sisingamangaraja XII wafat 

Kepercayaan

Sebelum suku Batak menganut agama Kristen Protestan, mereka mempunyai sistem kepercayaan dan religi tentang Mulajadi Nabolon yang memiliki kekuasaan di atas langit dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud dalam Debata Natolu.
Menyangkut jiwa dan roh,suku Batak mengenal tiga konsep,yaitu:
  • Tondi : adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan,oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia.Tondi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan.Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.
  • Sahala : adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang.Semua orang memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta,tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula.
  • Begu : adalah tondi orang telah meninggal,yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam.
Demikianlah religi dan kepercayaan suku Batak yang terdapat dalam pustaha.Walaupun sudah menganut agama Kristen dan berpendidikan tinggi, namun orang Batak belum mau meninggalkan religi dan kepercayaan yang sudah tertanam di dalam hati sanubari mereka.Ada juga kepercayaan yang ada di Tarutung tentang ular (ulok) dengan boru Hutabarat, dimana boru Hutabarat tidak boleh dikatakan cantik di Tarutung. Apabila dikatakan cantik maka nyawa wanita tersebut tidak akan lama lagi, menurut kepercayaan orang itu.

Kekerabatan

Kekerabatan adalah menyangkut hubungan hukum antar orang dalam pergaulan hidup.Ada dua bentuk kekerabatan bagi suku Batak,yakni berdasarkan garis keturunan (genealogi) dan berdasarkan Sosilogis, sementara kekerabatan teritorail tidak ada.
Bentuk kekerabatan berdasarkan garis keturunan (genealogi) terlihat dari silsilah marga mulai dari Si Raja Batak,dimana semua suku bangsa Batak memiliki marga.Sedangkan kekerabatan berdasarkan sosiologis terjadi melalui perjanjian (padan antar marga tertentu) maupun karena perkawinan.Dalam tradisi Batak, yang menjadi kesatuan Adat adalah ikatan sedarah dalam marga, kemudian Marga.Artinya misalnya Harahap, kesatuan adatnya adalah Marga Harahap vs narga lainnya.Berhubung bahwa Adat Batak/Tradisi Batak sifatnya dinamis yang seringkali disesuaikan dengan waktu dan tempat berpengaruh terhadap perbedaan corak tradisi antar daerah.
Adanya falsafah dalam perumpamaan dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi: Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul. merupakan suatu filosopi agar kita senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah teman terdekat.Namun dalam pelaksanaan adat, yang pertama dicari adalah yang satu marga, walaupun pada dasarnya tetangga tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan Adat.

Falsafah dan sistem kemasyarakatan

Masyarakat Batak memiliki falsafah, azas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam kemasyarakatannya yakni Tungku nan Tiga atau dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu,yakni Hula-hula, Dongan Tubu dan Boru ditambah Sihal-sihal. Dalam Bahasa Batak Angkola Dalihan na Tolu terdiri dari Mora, Kahanggi, dan Anak Boru
  • Hulahula/Mora adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub-suku Batak). Sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hulahula (Somba marhula-hula).
  • Dongan Tubu/Kahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama. Mereka ini seperti batang pohon yang saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena saking dekatnya kadang-kadang saling gesek. Namun pertikaian tidak membuat hubungan satu marga bisa terpisah. Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan pisau, kendati dibelah tetapi tetap bersatu. Namun demikian kepada semua orang Batak (berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga. Diistilahkan, manat mardongan tubu.
  • Boru/Anak Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai 'parhobas' atau pelayan baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun burfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru.
Namun bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak.Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifak kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak pasti pernah menjadi Hulahula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual.
Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus berperilaku 'raja'.Raja dalam tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku baik sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka dalam setiap pembicaraan adat selalu disebut Raja ni Hulahula,Raji no Dongan Tubu dan Raja ni Boru.


Catatan penting :
Tarombo:
Silsilah atau Tarombo merupakan suatu hal yang sangat penting bagi orang Batak. Bagi mereka yang tidak mengetahui silsilahnya akan dianggap sebagai orang Batak kesasar (nalilu). Orang Batak khusunya kaum laki-laki diwajibkan mengetahui silsilahnya minimal nenek moyangnya yang menurunkan marganya dan teman semarganya (dongan tubu). Hal ini diperlukan agar mengetahui letak kekerabatannya (partuturanna) dalam suatu klan atau marga.

Memperkenalkan “Tortor Lingkungan Hidup” Pada Pembukaan Pesta Danau Toba 2010








Pesta Danau Toba 2010 , tepatnya tgl. 20 Oktober 2010  yang bertempat di Open-Stage kota turis Parapat.
“Taman Eden 100″ akan ikut serta dalam mensukseskan acara yang selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat ini, yaitu dukungan dalam melestarikan Lingkungan Hidup Kawasan Danau Toba yang asri dan sejuk melalui penanaman pohon dilingkungan masyarakat disekitar Danau Toba yang akan digambarkan dalam sebuah Tortor (tarian) tradisonal Batak Toba yaitu “Tortor Lingkungan Hidup” binaan Taman Eden 100.
“Tortor Lingkungan Hidup” adalah sebuah tarian bagaimana kita harus memelihara lingkungan kita dengan menanam pohon supaya kelak anak cucu kita juga dapat menikmatinya. Gerakan tortor yang dinamis dan penari yang gemulai ini akan diiringi dengan Gondang Batak Sabangunan, merupakan sebuah gerakan yang mencontohkan penanaman pohon mulai dari bibit sampai akhirnya menuai hasilnya.
Tortor Lingkungan Hidup ini adalah sebuah inspirasi dan ciptaan Marandus Sirait dan Obeth Sihotang sebagai instruktur penarinya, sebelumnya sudah diperkenalkan kepada masyarakat pada Acara Perayaan 17 Agustus 2010 di Taman Eden 100.
Diharapkan untuk kedepan tarian ini akan dapat menambah kekayaan tortor tradisional Batak Toba, bahkan diharapkan akan dapat diterima oleh semua pihak terutama tokoh-tokoh adat dan suku-suku lain diluar suku Batak Toba, karena makna dan inspirasi yang terkandung dalam tarian/tortor ini adalah sangat mulia dan tujuannya adalah untuk kepentingan bersama.

PDT 2010 kenalkan permainan tradisional







PARAPAT – Hari keempat PDT 2010 dibuka dengan perlombaan olahraga tradisional  yang menjadi bagian serangkaian atraksi rakyat. Ada dua jenis pertandingan yang diperlombakan yaitu margala dan marjalengkat.
Kedua permainan tradisional ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap perayaan Pesta Danau Toba tiap tahunnya dan dipusatkan di tengah Open Stage Pagoda Parapat.
“Pertandingan ini selain bertujuan untuk memperkenalkan kebudayaan masyarakat sekitar kepada pengunjung, juga untuk mengajak muda-mudi disini berperan dalam Pesta Danau Toba tahun ini,” ujar Marhasak Silalahi (48), koordinartor perlombaan, kepada Waspada Online,
Dikatakannya, untuk tahun ini, jumlah total keseluruhan peserta yang mengikuti perlombaan adalah 59 tim. Untuk pertandingan margala jumlah tim terdiri dari 22 tim putra dan 11 tim putri, sedangkan pertandingan marjalengkat terdiri dari 15 tim putra dan 11 tim putri.
Peserta berasal dari Kabupaten Samosir, Toba Samosir, Simalungun dan Humbanghasudutan. Meski telah jauh hari melakukan persiapan dan sosialisasi kepada 7 kabupaten sekitar kawasan Danau Toba, namun hanya 4 kabupaten yang memberikan feedback.
“Panitia telah melakukan sosialisasi melalui brosur, website dan media cetak lokal,” tambahnya.
Pantauan Waspada Online, pertandingan ini ternyata cukup ampuh mencuri perhatian pengunjung yang menghadiri kemeriahan PDT 2010. Pengunjung terlihat menikmati pertandingan dengan menyemangati tim unggulan mereka.
“Selain mengenal lebih jauh permainan tradisional, perlombaan ini juga menjadi ajang kreativitas pemuda kawasan Danau Toba,” ujar Fenty Siringoringo , pengunjung lokal PDT 2010..

Sejarah dan Proses Terjadinya Danau Toba akan Difilmkan




Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sedang menyiapkan pembangunan Pusat Informasi Danau Toba. Pusat informasi ini nantinya akan menyajikan berbagai potensi dan sejarah terjadinya Danau Toba secara lengkap. Termasuk video dokumenter tentang terbentuknya danau vulkanik ini.

“Perlu ada ruang audio visual tentang terjadinya Danau Toba. Ini bisa menjadi tontonan. Jadi tidak sekadar cerita-cerita,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut Naruddin Dalimunthe, saat rapat kerja dengan Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumut di Gedung DPRD Sumut, Rabu (2/2).

Ide awal pembangunan pusat informasi Danau Toba ini datang dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat meresmikan Museum Batak di Balige, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan itu, tutur Naruddin, presiden meminta Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bersama Pemprovsu mempersiapkan pembangunan pusat informasi ini.

“Nanti digambarkan bagaimana potensi Danau Toba dan sejarahnya. Ini menjadi pekerjaan rumah. Kami sedang mencari-cari lahan,” ujar Naruddin.

 

Design By:
SkinCorner